{"id":18684,"date":"2018-05-16T10:55:19","date_gmt":"2018-05-16T03:55:19","guid":{"rendered":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/?p=18684"},"modified":"2018-05-16T10:55:19","modified_gmt":"2018-05-16T03:55:19","slug":"bahaya-wabah-difteri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/bahaya-wabah-difteri\/","title":{"rendered":"Ini Bahaya Wabah Penyakit Difteri yang Harus Dipahami"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><span style=\"color: #000000;\">Difteri sempat ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia pada akhir tahun 2017. Mungkin banyak masyarakat awam yang masih belum benar-benar memahami penyakit ini.<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Difteri diakibatkan karena kuman <em>Corynebacterium Diptheriae<\/em> yang kembali mewabah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Menurut data, pada November 2017 lalu tercatat sebanyak 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa penyakit ini, antara lain provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Banten, Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Provinsi yang menempati provinsi paling banyak terjangkit kasus penyakit ini adalah Jawa Timur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Kemudian disusul dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.<\/span><\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/bahaya-wabah-difteri\/#Bahaya_Penyakit_Difteri_Pada_Penderitanya\" >Bahaya Penyakit Difteri Pada Penderitanya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/bahaya-wabah-difteri\/#Penyebab_Penyebaran_Difteri\" >Penyebab Penyebaran Difteri<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/bahaya-wabah-difteri\/#Gejala_Penyakit_Difteri\" >Gejala Penyakit Difteri<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/bahaya-wabah-difteri\/#Cara_Menangani_Difteri\" >Cara Menangani Difteri<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3 style=\"text-align: left;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bahaya_Penyakit_Difteri_Pada_Penderitanya\"><\/span><span style=\"color: #000000;\">Bahaya Penyakit Difteri Pada Penderitanya<\/span><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Dari banyaknya kasus yang dilaporkan, ada sebanyak 32 kasus yang penderitanya meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Bahkan wabah ini terus meningkat jumlahnya. Ada ratusan kasus difteri yang terjadi di berbagai daerah.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Tentu kondisi ini sangat mengkhawatirkan bukan? <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Ternyata wabah ini dapat disebabkan karena ketidakinginan orang tua memberikan imunisasi pada anak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Biasanya rentang waktu setelah terkena diagnosis hingga meninggal dunia sekitar 5 hari hingga seminggu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Tentu kondisinya akan berbeda-beda pada setiap penderita karena akan tergantung pada derajat keparahan penyakitnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Rata-rata penderita yang meninggal memang tidak diimunisasi, atau diimunisasi namun tidak lengkap.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada faktor lain juga, seperti terlambat dibawa ke rumah sakit, kuman mengeluarkan racun sehingga dapat mengganggu fungsi jantung, atau otak kurang oksigen.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Semakin cepat ditangani, tentu akan semakin besar kemungkinan untuk sembuh.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_414613\" aria-describedby=\"caption-attachment-414613\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/medi-call.id\/dokter?utm_source=Blog&amp;utm_medium=Banner%20Pop%20Up%20Artikel&amp;utm_campaign=Layanan%20Dokter%20Visit\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-414613\" src=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Banner-Pop-Up-Bulider-Infus-Medi-Call-01-300x174.jpg\" alt=\"Panggil Dokter 24 Jam ke Rumah Anda\" width=\"300\" height=\"174\" srcset=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Banner-Pop-Up-Bulider-Infus-Medi-Call-01-300x174.jpg 300w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Banner-Pop-Up-Bulider-Infus-Medi-Call-01-1024x595.jpg 1024w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Banner-Pop-Up-Bulider-Infus-Medi-Call-01-768x446.jpg 768w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Banner-Pop-Up-Bulider-Infus-Medi-Call-01.jpg 1322w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-414613\" class=\"wp-caption-text\">Medi-Call: Layanan Infus, Vaksin dan Vitamin di Rumah Anda<\/figcaption><\/figure>\n<h3 style=\"text-align: left;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebab_Penyebaran_Difteri\"><\/span><span style=\"color: #000000;\">Penyebab Penyebaran Difteri<\/span><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Difteri sangat mudah menular melalui bersin atau batuk saja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Hal ini bisa terjadi karena bakteri tersebut memang banyak menghinggapi hidung dan tenggorokan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Bakteri yang banyak tersebut membentuk selaput putih dan tebal yang dapat menutupi saluran pernapasan jika dibiarkan terlalu lama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Bahkan bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun atau toksin yang dapat melumpuhkan otot jantung dan saraf manusia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Hal ini lah yang menyebabkan kematian pada beberapa penderita. Penyakit ini dapat menyerang bayi dan anak-anak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Namun penderitanya paling banyak balita, anak usia sekolah, dan remaja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Telah disebutkan di atas bahwa sebagian besar penderita difteri disebabkan karena belum pernah diimunisasi sama sekali.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Lebih tepatnya imunisasi DPT.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Imunisasi di luar itu memang tidak bisa mencegah penyakit ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada 2 kelompok untuk penyebabnya, yaitu pertama, kelompok penderita yang tidak pernah diimunisasi sama sekali.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Kedua, kelompok penderita yang telah diimunisasi, namun tidak lengkap.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Secara ideal, imunisasi difteri ada beberapa tahapan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Hingga <strong>usia 1 tahun<\/strong>, harus DPT sebanyak tiga kali.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Kemudian, <strong>usia 2 tahun<\/strong> ada 4 kali DPT, sampai <strong>usia<\/strong> <strong>5 tahun<\/strong> sebaiknya ada sebanyak 5 kali DPT, <strong>usia 6 tahun<\/strong> sebanyak 6 kali DPT, <strong>usia 7 tahun<\/strong> sebanyak 7 kali DPT, hingga <strong>tamat SD<\/strong> sebaiknya sudah melakukan 8 kali DPT.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Setelah itu, untuk usia di atas 7 tahun, nama vaksin sudah bukan DPT lagi, namun Td. Vaksin ini berbeda, namun yang terpenting harus tetap ada komponen D.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gejala_Penyakit_Difteri\"><\/span><span style=\"color: #000000;\">Gejala Penyakit Difteri<\/span><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Bagi para penderita penyakit ini, ada beberapa gejala awal yang bisa dirasakan, seperti adanya selaput putih tebal pada hidung atau tenggorokan, apalagi jika leher juga membengkak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika kondisinya sudah seperti ini, sebaiknya segera minta penanganan <span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><a style=\"color: #ff0000; text-decoration: underline;\" href=\"https:\/\/medi-call.id\/dokter\">dokter<\/a><\/span><\/span>.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_417718\" aria-describedby=\"caption-attachment-417718\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/medi-call.id\/dokter?utm_source=Blog&amp;utm_medium=Banner%20Pop%20Up%20Artikel&amp;utm_campaign=Layanan%20Dokter%20Visit\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-417718\" src=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Banner-Pop-Up-Dokter-Ke-Rumah-dan-Dokter-Umum-Terdekat-Medi-Call-300x174.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"174\" srcset=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Banner-Pop-Up-Dokter-Ke-Rumah-dan-Dokter-Umum-Terdekat-Medi-Call-300x174.jpg 300w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Banner-Pop-Up-Dokter-Ke-Rumah-dan-Dokter-Umum-Terdekat-Medi-Call-1024x595.jpg 1024w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Banner-Pop-Up-Dokter-Ke-Rumah-dan-Dokter-Umum-Terdekat-Medi-Call-768x446.jpg 768w, https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Banner-Pop-Up-Dokter-Ke-Rumah-dan-Dokter-Umum-Terdekat-Medi-Call.jpg 1322w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-417718\" class=\"wp-caption-text\">Medi-Call: Layanan Panggil Dokter ke Rumah<\/figcaption><\/figure>\n<h3 style=\"text-align: left;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Menangani_Difteri\"><\/span><span style=\"color: #000000;\">Cara Menangani Difteri<\/span><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Apabila anak Anda didiagnosa penyakit difteri, maka harus segera diberikan <a href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/vaksinasi-untuk-menghindari-resistensi-antibiotik\/\"><span style=\"text-decoration: underline; color: #ff0000;\">antibiotik<\/span><\/a> dan rawat inap.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Bahkan penderita penyakit ini harus diisolasi selama kurang lebih 2 minggu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Kemudian orang-orang disekitarnya, seperti orang tua, saudara, atau teman, juga harus diperiksa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Itu tadi bahaya penyakit difteri yang perlu Anda ketahui. Ternyata sangat berbahaya bukan? Jangan anggap remeh penyakit ini, ya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada penurunan minat pada orang tua terkait melakukan imunisasi pada anaknya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Penurunan minat ini sudah terjadi selama kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Hal ini disampaikan oleh Jane Soepardi yang merupakan Direktur Surveilans dan Karantina Kementrian Kesehatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Padahal hal ini lah yang dapat memicu bakteri <em>Corynebacterium Diptheriae <\/em>hinggap di tubuh.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Berikan imunisasi difteri yang lengkap kepada anak Anda.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Difteri sempat ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia pada akhir tahun 2017. Mungkin banyak masyarakat awam yang masih belum benar-benar memahami penyakit ini. Difteri diakibatkan karena kuman Corynebacterium Diptheriae yang kembali mewabah. Menurut data, pada November 2017 lalu tercatat sebanyak 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa penyakit ini, antara lain provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Banten, Riau, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":19020,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","footnotes":""},"categories":[114],"tags":[69,27,120,119],"class_list":["post-18684","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-vaksin","tag-anak","tag-medi-call","tag-vaksin-difteri","tag-vaksin-ke-rumah"],"modified_by":"Medi-Call Writers","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18684","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18684"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18684\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18684"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18684"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18684"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}