{"id":426503,"date":"2026-08-06T21:08:52","date_gmt":"2026-08-06T14:08:52","guid":{"rendered":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/?p=426503"},"modified":"2026-08-06T21:08:52","modified_gmt":"2026-08-06T14:08:52","slug":"makanan-untuk-anemia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/makanan-untuk-anemia\/","title":{"rendered":"Makanan untuk Anemia: Pilihan Nutrisi yang Mendukung Pemulihan"},"content":{"rendered":"<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Makanan untuk anemia dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. Pola makan yang tepat juga mendukung cara mengatasi <\/span><a href=\"https:\/\/medi-call.id\/blog\/gejala-penyakit-anemia-yang-perlu-diwaspadai\/\"><span class=\"s5\">anemia<\/span><\/a><span class=\"s4\">, terutama jika anemia disebabkan oleh kekurangan nutrisi. Namun, pemilihan makanan perlu disesuaikan dengan penyebab anemia dan dapat dikombinasikan dengan pengobatan sesuai anjuran dokter agar hasilnya lebih optimal.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Makanan Apa yang Baik untuk Anemia?<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Tidak ada satu jenis makanan yang dapat mengatasi anemia secara langsung. Melansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s5\">World Health Organization (WHO),<\/span><\/a><span class=\"s4\"> penderita anemia dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C karena nutrisi tersebut berperan dalam pembentukan sel darah merah dan hemoglobin.<\/span><\/p>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Pemilihan makanan juga perlu disesuaikan dengan jenis anemia. Misalnya, anemia defisiensi besi memerlukan asupan makanan tinggi zat besi, sedangkan anemia akibat kekurangan vitamin B12 membutuhkan sumber makanan hewani atau makanan yang difortifikasi.<\/span><\/p>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Dalam praktiknya, dokter Medi-Call juga mengedukasi pasien bahwa pola makan sehat merupakan bagian penting dari penanganan anemia, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan penyebab yang mendasarinya.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Nutrisi yang Penting untuk Penderita Anemia<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Setiap nutrisi memiliki fungsi yang berbeda dalam membantu pembentukan sel darah merah. Karena itu, penderita anemia perlu memastikan asupan nutrisi berikut terpenuhi melalui pola makan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Zat Besi<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s11\">Anemia defisiensi zat besi dapat dicegah dengan mengonsumsi sumber hewani yang kaya akan besi heme dan mudah diserap tubuh. Namun, tingginya harga pangan hewani membuat akses masyarakat Indonesia terbatas, sehingga angka prevalensi anemia nasional tetap tinggi di berbagai kelompok <\/span><span class=\"s11\">usia<\/span><span class=\"s11\">.<\/span> <a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Iron-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">Zat besi<\/span><\/a><span class=\"s4\"> merupakan komponen utama hemoglobin yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menurunkan produksi hemoglobin sehingga menjadi penyebab paling umum anemia . Zat besi heme dari makanan hewani lebih mudah diserap <\/span><span class=\"s11\">tubuh<\/span><span class=\"s4\"> dibandingkan zat besi non-heme dari tumbuhan, <\/span><span class=\"s11\">namun dapat ditingkatkan dengan bantuan vitamin <\/span><span class=\"s11\">C<\/span><span class=\"s4\">.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Vitamin B12<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/VitaminB12-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">Vitamin B12<\/span><\/a><span class=\"s4\"> membantu pembentukan sel darah merah sekaligus menjaga fungsi sistem saraf. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan anemia megaloblastik, yaitu kondisi ketika sel darah merah <\/span><span class=\"s11\">berukuran lebih besar dari normal namun tidak berfungsi optimal. Vitamin B12 secara alami hanya ditemukan pada makanan hewani.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Asam Folat<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Folate-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">Asam folat<\/span><\/a><span class=\"s4\"> atau vitamin B9 dibutuhkan dalam pembentukan DNA dan perkembangan sel darah merah di sumsum tulang. Asupan folat yang cukup juga penting selama kehamilan karena mendukung pertumbuhan janin.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Vitamin C<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Vitamin C <\/span><span class=\"s11\">tidak berperan langsung dalam pembentukan sel darah merah, tetapi dapat <\/span><span class=\"s4\">membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati. Oleh karena itu, mengombinasikan makanan tinggi zat besi dengan buah atau sayuran kaya vitamin C dapat membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.<\/span><\/p>\n<h2>Tabel Makanan Berdasarkan Kandungan Nutrisi<\/h2>\n<table style=\"border-collapse: collapse; width: 91.6178%;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Nutrisi<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Contoh Makanan<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Manfaat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Zat besi heme<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Daging sapi, daging kambing, hati ayam\/sapi, ikan, kerang<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Mudah diserap tubuh untuk membantu pembentukan hemoglobin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Zat besi non-heme<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Bayam, tempe, tahu, kacang-kacangan,<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Membantu memenuhi kebutuhan zat besi, terutama jika dikonsumsi bersama vitamin C<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Vitamin B12<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Telur, susu dan produk olahan seperti keju dan yoghurt, ikan, daging<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Mendukung pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Asam folat<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Bayam, brokoli, asparagus, alpukat<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Membantu pembentukan DNA dan sel darah merah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 11.0554%;\">Vitamin C<\/td>\n<td style=\"width: 34.3361%;\">Jeruk, jambu biji, kiwi, stroberi, tomat<\/td>\n<td style=\"width: 46.323%;\">Meningkatkan penyerapan zat besi non heme dari makanan nabati<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Makanan Tinggi Zat Besi untuk Anemia<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Zat besi merupakan nutrisi yang paling sering dikaitkan dengan anemia. Namun, sumber zat besi terbagi menjadi dua jenis, yaitu zat besi heme dari pangan hewani dan zat besi non-heme dari pangan nabati. Mengombinasikan keduanya dalam menu sehari-hari dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi secara lebih seimbang.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Sumber Hewani\u00a0<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Sumber zat besi heme memiliki tingkat penyerapan yang lebih tinggi sehingga lebih mudah dimanfaatkan tubuh. Beberapa pilihan<\/span><span class=\"s11\"> bahan makanan indonesia<\/span><span class=\"s4\"> yang dapat dikonsumsi antara lain:<\/span><\/p>\n<div class=\"s20\">\u25cf <span class=\"s4\">Daging sapi tanpa lemak<\/span><\/div>\n<div class=\"s21\">\u25cf <span class=\"s4\">Daging ayam<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Hati sapi atau hati ayam (dikonsumsi secukupnya).<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Ikan, seperti <\/span><span class=\"s11\">teri, <\/span><span class=\"s4\">tuna, <\/span><span class=\"s11\">dan <\/span><span class=\"s4\">salmon, <\/span><span class=\"s13\">dan sarden.<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Kerang <\/span><span class=\"s11\">segar <\/span><span class=\"s4\">dan <\/span><span class=\"s11\">udang<\/span><\/div>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Selain zat besi, makanan tersebut juga mengandung protein dan vitamin B12 yang mendukung pembentukan sel darah merah.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Sumber Nabati<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Sumber zat besi non-heme tetap penting, terutama bagi vegetarian atau masyarakat yang ingin memperbanyak konsumsi pangan nabati. Beberapa pilihan bahan makanan indonesia, meliputi:<\/span><\/p>\n<div class=\"s20\">\u25cf <span class=\"s4\">Bayam merah, <\/span><span class=\"s11\">daun semanggi, brokoli,kangkung daun singkong<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s11\">Kacang-kacangan<\/span> <span class=\"s11\">(seperti kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong)<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Tempe <\/span><span class=\"s11\">kedelai <\/span><span class=\"s4\">dan tahu.<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s11\">Daun selasih<\/span><\/div>\n<p class=\"s24\"><span class=\"s11\">Zat besi yang terkandung dalam makanan nabati umumnya sulit diserap tubuh secara optimal, meskipun jumlah kandungannya cukup tinggi. Oleh sebab itu, penyerapannya perlu ditingkatkan dengan mengombinasikan makanan nabati bersama makanan hewani. Contohnya, sup yang ditambahkan ayam, ceker ayam, leher ayam, atau ikan.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Buah dan Sayuran yang Baik untuk Anemia<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Selain makanan tinggi zat besi, buah dan sayuran berikut juga berperan dalam mendukung pembentukan sel darah merah.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Buah<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Buah kaya vitamin C yang dianjurkan, antara lain:<\/span><\/p>\n<div class=\"s20\">\u25cf <span class=\"s4\">Jeruk<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Jambu biji<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Kiwi<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Stroberi<\/span><\/div>\n<div class=\"s21\">\u25cf <span class=\"s4\">Pepaya<\/span><\/div>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Buah-buahan tersebut dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi jus tanpa tambahan gula berlebihan agar kandungan gizinya tetap terjaga.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Sayuran<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Sayuran hijau merupakan sumber folat dan zat besi non-heme yang baik. Beberapa pilihan yang dapat dimasukkan ke dalam menu sehari-hari meliputi:<\/span><\/p>\n<div class=\"s20\">\u25cf <span class=\"s4\">Bayam<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Brokoli<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Kangkung<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Daun singkong<\/span><\/div>\n<div class=\"s22\">\u25cf <span class=\"s4\">Asparagus<\/span><\/div>\n<div class=\"s21\">\u25cf <span class=\"s4\">Paprika merah<\/span><\/div>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Memasak sayuran dengan cara dikukus atau ditumis sebentar dapat membantu mempertahankan kandungan vitamin di dalamnya.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Minuman yang Mendukung Penyerapan Zat Besi<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Selain makanan, pilihan minuman juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi. Mengonsumsi minuman berikut saat makan dapat membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Air Putih<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Air putih merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan tanpa memengaruhi penyerapan zat besi. Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga membantu <\/span><span class=\"s11\">menjaga volume darah dan mendukung fungsi tubuh secara umum.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Jus Tinggi Vitamin C<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Jus dari buah yang kaya vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, kiwi, atau tomat, dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Sebaiknya pilih jus tanpa tambahan gula dan konsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Makanan dan Minuman yang Dapat Menghambat Penyerapan Zat Besi<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Beberapa makanan dan minuman berikut mengandung senyawa yang dapat mengurangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan utama. Karena itu, sebaiknya beri jeda sekitar 1\u20132 jam agar penyerapan zat besi tetap optimal.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Teh<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi, terutama zat besi non-heme. Hindari minum teh saat atau segera setelah makan jika Anda sedang berupaya meningkatkan kadar zat besi.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Kopi<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Polifenol dalam kopi juga dapat mengurangi penyerapan zat besi. Jika ingin minum kopi, sebaiknya beri jeda setelah makan atau setelah mengonsumsi suplemen zat besi.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Makanan<\/span><span class=\"s25\"> atau Suplemen<\/span><span class=\"s14\"> Tinggi Kalsium<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s11\">Tablet kalsium dosis tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi. <\/span><span class=\"s4\">Susu <\/span><span class=\"s11\">hewani<\/span><span class=\"s4\">, keju, dan yogurt merupakan sumber kalsium yang baik, tetapi konsumsinya bersamaan dengan makanan tinggi zat besi dapat mengurangi penyerapan zat besi. Produk susu tetap dapat dikonsumsi pada waktu yang berbeda.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Fitat pada Serealia Utuh<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Sereal, kacang-kacangan, dan beberapa jenis biji-bijian mengandung fitat yang dapat mengikat zat besi. Meski demikian, makanan ini tetap bergizi dan tidak perlu dihindari. Proses perendaman atau fermentasi <\/span><span class=\"s11\">(misalnya pada pembuatan tempe)<\/span><span class=\"s4\"> dapat membantu mengurangi kadar fitat <\/span><span class=\"s11\">sehingga zat besi lebih mudah diserap<\/span><span class=\"s4\">.<\/span><\/p>\n<h2>Tabel Makanan yang Mendukung vs Menghambat Penyerapan Zat Besi<\/h2>\n<table style=\"border-collapse: collapse; width: 60.8883%;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\"><strong>Mendukung Penyerapan Zat Besi\u00a0<\/strong><\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\"><strong>Menghambat Penyerapan Zat Besi<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\">Makanan\/minuman tinggi vitamin C (jeruk, jambu biji, kiwi, stroberi)<\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\">Teh<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\">Daging ikan dan ayam (meningkatkan penyerapan zat besi non heme dan sekitarnya)<\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\">Kopi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\">Air putih<\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\">Susu, keju, yogurt jika dikonsumsi bersamaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\">Makanan yang difermentasi seperti tempe (mengurangi kadar fitat)<\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\">Serelia utuh dan makanan tinggi fitat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 39.7064%;\">Kombinasi makanan tinggi zat besi dan vitamin C<\/td>\n<td style=\"width: 31.2081%;\">Teh atau kopi segera setelah makan<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Bagaimana Menyusun Pola Makan untuk Penderita Anemia?<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Pola makan yang tepat tidak hanya berfokus pada jenis makanan, tetapi juga cara mengombinasikan dan waktu mengonsumsinya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pola makan penderita anemia.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Kombinasi Zat Besi dan Vitamin C<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Padukan makanan tinggi zat besi dengan sumber vitamin C, misalnya daging sapi dengan paprika atau tempe dengan tomat. Kombinasi ini membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama dari sumber nabati.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s14\">Variasi Menu<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Konsumsi menu yang beragam agar kebutuhan zat besi, vitamin B12, folat, protein, dan vitamin C dapat terpenuhi. Variasi makanan juga membantu menjaga pola makan tetap seimbang.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Jadwal Makan<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Usahakan makan secara teratur dan hindari melewatkan waktu makan. Beri jeda sekitar 1\u20132 jam antara konsumsi teh, kopi, atau produk tinggi kalsium dengan makanan tinggi zat besi maupun suplemen zat besi.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s10\"><span class=\"s9\">Kepatuhan terhadap Terapi bila Ada<\/span><\/h3>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Perubahan pola makan merupakan bagian dari cara mengatasi anemia, tetapi tidak selalu cukup. Jika dokter meresepkan suplemen zat besi atau terapi lain, konsumsilah sesuai anjuran dan lakukan kontrol sesuai jadwal untuk memantau perkembangan kondisi.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s8\"><span class=\"s7\">Apakah Makanan Saja Cukup untuk Mengatasi Anemia?<\/span><\/h2>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s11\">Pada kondisi anemia ringan, m<\/span><span class=\"s4\">akanan bergizi dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah. Namun, pada beberapa kasus, pola makan saja tidak cukup untuk mengatasi anemia, terutama jika penyebabnya adalah perdarahan, penyakit kronis, gangguan penyerapan nutrisi, atau kekurangan vitamin B12 yang berat.<\/span><\/p>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Karena itu, penting untuk mengetahui penyebab anemia melalui pemeriksaan medis. Dokter dapat menentukan apakah perubahan pola makan saja sudah memadai atau perlu dikombinasikan dengan suplemen maupun terapi lainnya. <\/span><a href=\"https:\/\/medi-call.id\/dokter\/\"><span class=\"s5\">Dokter Medi-Call<\/span><\/a><span class=\"s4\"> juga dapat memberikan edukasi mengenai pola makan serta membantu mengarahkan pasien untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhannya.<\/span><\/p>\n<p class=\"s26\"><span class=\"s4\">Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, pingsan, perdarahan yang tidak berhenti, atau gejala anemia yang semakin memburuk.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Pola Makan Seimbang Membantu Mendukung Pemulihan Anemia<\/span><\/p>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C merupakan langkah penting dalam mendukung pemulihan anemia. Lengkapi dengan pola makan yang bervariasi, kombinasikan sumber zat besi dengan vitamin C, serta hindari konsumsi teh atau kopi bersamaan dengan waktu makan agar penyerapan zat besi lebih optimal.<\/span><\/p>\n<p class=\"s6\"><span class=\"s4\">Meski demikian, setiap jenis anemia memiliki penyebab yang berbeda. Jika gejala tidak membaik atau hasil pemeriksaan menunjukkan anemia, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p class=\"s28\"><span class=\"s27\">Disclaimer:<\/span><\/p>\n<p class=\"s28\"><em><span class=\"s29\">Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi maupun diagnosis oleh dokter. Jika Anda mengalami gejala anemia atau memiliki kondisi medis tertentu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.<\/span><\/em><\/p>\n<h3 class=\"s8\"><span class=\"s30\">Referensi<\/span><\/h3>\n<div class=\"s20\">1. <span class=\"s11\">Kementerian Kesehatan RI (2023) <\/span><span class=\"s31\">Buku Saku Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil dan Remaja Putri<\/span><span class=\"s11\">. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. <\/span><\/div>\n<div class=\"s20\">2. <span class=\"s32\">Kementerian Kesehatan RI. (2015). <\/span><span class=\"s33\">Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah<\/span><span class=\"s32\">. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.<\/span><\/div>\n<div class=\"s20\">3. <span class=\"s4\">World Health Organization. <\/span><span class=\"s34\">Anaemia<\/span><span class=\"s4\">. 2025.<\/span><a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s4\"> Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><span class=\"s4\"><br \/>\n<\/span><\/a><a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s5\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s22\">4. <span class=\"s4\">National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. <\/span><span class=\"s34\">Iron Fact Sheet for Health Professionals<\/span><span class=\"s4\">. Diperbarui 2025.<\/span><a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s4\">Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Iron-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Iron-HealthProfessional\/<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s22\">5. <span class=\"s4\">National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. <\/span><span class=\"s34\">Vitamin B12 Fact Sheet for Health Professionals<\/span><span class=\"s4\">. Diperbarui 2025.<\/span> <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s4\">Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/VitaminB12-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/VitaminB12-HealthProfessional\/<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s22\">6. <span class=\"s4\">National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. <\/span><span class=\"s34\">Folate Fact Sheet for Health Professionals<\/span><span class=\"s4\">. Diperbarui 2025.<\/span> <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/anaemia\"><span class=\"s4\">Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Folate-HealthProfessional\/\"><span class=\"s5\">https:\/\/ods.od.nih.gov\/factsheets\/Folate-HealthProfessional\/<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s22\">7. <span class=\"s4\">National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). 2022. <\/span><span class=\"s34\">Anemia, What Is Anemia?<\/span><span class=\"s4\">Diakses pada 27 Juli 2026, dari:<\/span><span class=\"s4\"><br \/>\n<\/span><a href=\"https:\/\/www.nhlbi.nih.gov\/health\/anemia\"><span class=\"s5\">https:\/\/www.nhlbi.nih.gov\/health\/anemia<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s22\">8. <span class=\"s4\">British Society for Gastroenterology. <\/span><span class=\"s34\">BSG Guidelines for the Management of Iron Deficiency Anaemia in Adults<\/span><span class=\"s4\">. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><span class=\"s4\"><br \/>\n<\/span><a href=\"https:\/\/www.bsg.org.uk\/clinical-resource\/guidelines-iron-deficiency-anaemia-in-adults\"><span class=\"s5\">https:\/\/www.bsg.org.uk\/clinical-resource\/guidelines-iron-deficiency-anaemia-in-adults<\/span><\/a><\/div>\n<div class=\"s21\">9. <span class=\"s4\">World Health Organization. <\/span><span class=\"s34\">Guideline on haemoglobin cut-offs to define anaemia in individuals and populations<\/span><span class=\"s4\">. 2024. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:<\/span><span class=\"s4\"><br \/>\n<\/span><a href=\"https:\/\/www.guidelinecentral.com\/guideline\/3534081\/\"><span class=\"s5\">https:\/\/www.guidelinecentral.com\/guideline\/3534081\/#section-3534088<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makanan untuk anemia dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. Pola makan yang tepat juga mendukung cara mengatasi anemia, terutama jika anemia disebabkan oleh kekurangan nutrisi. Namun, pemilihan makanan perlu disesuaikan dengan penyebab anemia dan dapat dikombinasikan dengan pengobatan sesuai anjuran dokter [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":426504,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","footnotes":""},"categories":[9,294,295],"tags":[366],"class_list":["post-426503","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-dokter","category-info-kesehatan","category-penyakit-a-z","tag-anemia"],"modified_by":"Medi-Call Editor Team","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426503","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=426503"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426503\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":426505,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426503\/revisions\/426505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/426504"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=426503"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=426503"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/medi-call.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=426503"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}