Stroke hemoragik merupakan kondisi darurat ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi otak dan menimbulkan gejala yang muncul secara tiba-tiba. Mengenali gejalanya dan mendapatkan pertolongan medis sesegera mungkin penting untuk mencegah kerusakan otak yang lebih berat.
Apa Itu Stroke Hemoragik?
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), stroke hemoragik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah di dalam atau di sekitar otak pecah sehingga darah keluar dan mengalir ke jaringan atau ruang di sekitar otak. Darah yang menumpuk dapat menekan jaringan otak, meningkatkan tekanan di dalam tengkorak, dan mengganggu fungsi sel-sel otak.
Stroke hemoragik berbeda dengan stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat, sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat perdarahan. Perbedaan ini penting karena keduanya membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang berbeda.
Bagaimana Stroke Hemoragik Terjadi?
Pembuluh darah di otak dapat melemah atau mengalami kerusakan akibat berbagai kondisi. Ketika dinding pembuluh darah tidak mampu menahan tekanan, pembuluh tersebut dapat pecah dan menyebabkan darah keluar ke jaringan otak atau ruang di sekitarnya.
Perdarahan kemudian dapat merusak jaringan otak secara langsung dan menimbulkan pembengkakan. Kondisi ini juga dapat meningkatkan tekanan di dalam tengkorak sehingga mengganggu fungsi otak. Tingkat keparahan stroke hemoragik bergantung pada lokasi dan jumlah perdarahan serta kondisi pasien.
Apa yang Terjadi pada Otak Saat Pembuluh Darah Pecah?
Darah yang keluar dari pembuluh darah dapat langsung merusak jaringan di sekitarnya. Penumpukan darah juga dapat memberikan tekanan pada otak dan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak.
Selain itu, perdarahan dapat memicu pembengkakan otak atau mengganggu aliran cairan otak. Kondisi tersebut dapat memperburuk kerusakan jaringan sehingga pasien membutuhkan pemantauan dan penanganan medis segera. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan memahami tanda pendarahan otak.
Apa Saja Jenis Stroke Hemoragik?
Secara umum, stroke hemoragik dibedakan berdasarkan lokasi perdarahannya berikut ini.
Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral terjadi ketika pembuluh darah pecah dan darah masuk langsung ke jaringan otak. Kondisi ini sering berkaitan dengan penyakit pembuluh darah kecil, terutama tekanan darah tinggi, tetapi dokter tetap perlu mencari kemungkinan penyebab lainnya.
Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid terjadi ketika darah masuk ke ruang di antara otak dan selaput yang melindunginya. Salah satu penyebab pentingnya adalah pecahnya aneurisma otak.
Sakit kepala yang muncul sangat tiba-tiba dan hebat dapat menjadi salah satu tanda yang perlu dicurigai, terutama jika disertai gejala neurologis lainnya.
Perbedaan Perdarahan Intraserebral dan Subaraknoid
| Aspek | Perdarahan Intraserebral | Perdarahan Subaraknoid |
| Lokasi perdarahan | Di dalam jaringan otak | Di ruang sekitar otak |
| Penyabab umum | Tekanan darah tinggi dan kelainan pembuluh darah | Pecahnya aneurisma atau kelainan pembuluh darah tertentu |
| Gejala | Kelemahan tubuh, gangguan bicara, penurunan kesadaran, sakit kepala | Sakit kepala hebat mendadak, mual, muntah, gangguan kesadaran atau gejala neurologis |
| Penanganan | Mengendalikan perdarahan, tekanan darah, pembengkakan, dan komplikasi | Mengendalikan perdarahan serta menangani sumber perdarahan, misalnya aneurisma |
Apa Penyebab Stroke Hemoragik?
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan stroke hemoragik, meliputi:
- Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
- Aneurisma otak yang pecah.
- Kelainan pembuluh darah, seperti malformasi arteriovena.
- Gangguan pembekuan darah.
- Penggunaan obat tertentu yang memengaruhi pembekuan darah.
- Kelainan pembuluh darah otak lainnya.
- Cedera kepala pada kondisi tertentu, meskipun perdarahan akibat trauma dibedakan dari stroke hemoragik spontan.
Dokter biasanya melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab perdarahan. Ini karena penyebabnya dapat memengaruhi pengobatan dan pencegahan kekambuhan.
Apa Faktor Risiko Stroke Hemoragik?
Risiko stroke hemoragik dapat meningkat akibat beberapa faktor, antara lain:
- Tekanan darah tinggi.
- Riwayat stroke atau perdarahan otak.
- Gangguan pembuluh darah otak.
- Penggunaan obat pengencer darah tertentu.
- Kebiasaan merokok.
- Konsumsi alkohol berlebihan.
- Kondisi kesehatan tertentu yang memengaruhi pembuluh darah atau pembekuan darah.
Tidak semua faktor risiko dapat dikendalikan. Namun, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan pengendalian tekanan darah dapat membantu menurunkan risiko stroke.
Apa Saja Gejala Stroke Hemoragik?
Gejala stroke hemoragik biasanya muncul secara tiba-tiba. Gejala yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Wajah tampak menurun/mencong atau tidak simetris pada satu sisi.
- Lengan atau tungkai tiba-tiba lemah atau mati rasa, terutama pada satu sisi tubuh.
- Bicara pelo atau sulit memahami pembicaraan.
- Gangguan penglihatan.
- Pusing, kehilangan keseimbangan, atau sulit berjalan.
- Penurunan kesadaran.
- Kejang.
- Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, terutama pada perdarahan subaraknoid.
- Mual atau muntah yang menyertai gejala neurologis tertentu.
Catatan penting: Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Jika gejala muncul mendadak dan dicurigai sebagai stroke, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis dan dibawa ke fasilitas kesehatan. Waktu munculnya gejala juga perlu dicatat karena informasi tersebut membantu dokter menentukan penanganan.
Apa Perbedaan Stroke Hemoragik dan Stroke Iskemik?
Meringkas dari Pacific Neuroscience Institute, berikut perbedaan dari stroke hemoragik dan stroke iskemik:
| Aspek | Stroke Hemoragik | Stroke Iskemik |
| Penyebab | Pembuluh darah pecah atau bocor | Pembuluh darah tersumbat |
| Masalah utama | Perdarahan dan tekanan pada jaringan otak | Kekurangan aliran darah dan oksigen |
| Contoh penyebab | Hipertensi, aneurisma, kelainan pembuluh darah | Bekuan darah, penyempitan pembuluh darah |
| Pemeriksaan | CT scan atau MRI dapat menunjukkan perdarahan | CT scan atau MRI membantu melihat area yang terdampak dan penyebabnya |
| Penanganan | Mengendalikan perdarahan dan komplikasinya | Mengembalikan aliran darah pada pasien yang memenuhi kriteria |
Perbedaan ini penting karena obat penghancur bekuan darah yang digunakan pada kondisi tertentu pada stroke iskemik tidak diberikan pada stroke hemoragik. Oleh karena itu, pemeriksaan pencitraan otak diperlukan untuk membedakan keduanya.
Bagaimana Stroke Hemoragik Didiagnosis?
Dokter akan menilai gejala, waktu munculnya keluhan, riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, serta kondisi pasien. Pemeriksaan saraf juga membantu menilai tingkat gangguan yang terjadi.
CT scan otak sering digunakan dalam kondisi akut karena dapat dengan cepat menunjukkan adanya perdarahan. Dokter dapat menggunakan pemeriksaan lain, seperti MRI, CT angiografi, atau angiografi, bila diperlukan untuk mencari sumber perdarahan atau kelainan pembuluh darah.
Pemeriksaan darah, termasuk pemeriksaan pembekuan darah, juga dapat dilakukan untuk membantu menentukan faktor yang berperan dalam perdarahan dan menyesuaikan penanganan.
Bagaimana Stroke Hemoragik Ditangani?
Penanganan bergantung pada lokasi dan jumlah perdarahan, penyebab, kondisi neurologis, serta komplikasi yang muncul. Dokter dapat melakukan beberapa tindakan, seperti:
- Memantau dan mengendalikan tekanan darah.
- Menghentikan atau membalikkan efek obat tertentu yang mengganggu pembekuan darah bila diperlukan.
- Menangani pembengkakan atau peningkatan tekanan di dalam tengkorak.
- Melakukan operasi pada kondisi tertentu.
- Melakukan prosedur melalui pembuluh darah untuk menangani sumber perdarahan, misalnya aneurisma.
- Memberikan perawatan intensif dan pemantauan komplikasi.
Tidak semua pasien membutuhkan operasi. Tim medis akan menentukan pilihan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.
Bagaimana Mencegah Stroke Hemoragik?
Pencegahan terutama berfokus pada pengendalian faktor risiko. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, meliputi:
- Memeriksa dan mengontrol tekanan darah secara rutin.
- Mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter.
- Berhenti merokok.
- Membatasi konsumsi alkohol.
- Menjaga pola makan dan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh.
- Melakukan pemeriksaan apabila memiliki kondisi yang meningkatkan risiko stroke.
Pasien yang pernah mengalami stroke juga membutuhkan pemantauan untuk mengurangi risiko kejadian berikutnya.
Kapan Pasien Stroke Hemoragik Membutuhkan Dokter ke Rumah?
Layanan dokter ke rumah dapat menjadi pilihan bagi pasien pascastroke hemoragik yang sudah dalam kondisi stabil, tetapi mengalami keterbatasan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan. Kunjungan dokter dapat membantu memantau kondisi pasien dan mengevaluasi keluhan yang muncul selama masa pemulihan.
Dokter ke rumah dapat dipertimbangkan ketika pasien membutuhkan:
- Pemantauan kondisi kesehatan secara berkala.
- Evaluasi keluhan baru yang tidak menunjukkan tanda kegawatan.
- Peninjauan kondisi setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
- Pemantauan pengobatan sesuai anjuran dokter.
- Pemeriksaan ketika keterbatasan gerak membuat pasien sulit bepergian.
Catatan penting: Dokter ke rumah bukan pengganti layanan darurat. Jika pasien tiba-tiba mengalami kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, penurunan kesadaran, kejang, sakit kepala hebat yang muncul mendadak, atau gejala stroke lainnya, segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan atau hubungi layanan kegawatdaruratan. Jangan menunggu kunjungan dokter ke rumah.
Panggil Dokter ke Rumah untuk Pasien Pasca Stroke Hemoragik
Pasien pasca stroke hemoragik membutuhkan pemantauan sesuai kondisi dan rencana perawatan yang diberikan oleh dokter. Selama masa pemulihan, keluarga juga perlu memperhatikan perubahan kemampuan bergerak, berbicara, menelan, beraktivitas, maupun kondisi umum pasien.
Bagi pasien yang sudah stabil tetapi mengalami kesulitan bepergian, Medi-Call menyediakan layanan dokter ke rumah sehingga pasien dapat memperoleh pemeriksaan medis tanpa harus melakukan perjalanan ke fasilitas kesehatan. Dokter dapat melakukan evaluasi kondisi pasien secara langsung, menilai keluhan yang dirasakan, serta memberikan rekomendasi tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan.
Layanan ini dapat membantu keluarga memantau kondisi pasien pasca stroke, terutama ketika mobilitas pasien masih terbatas. Namun, apabila dokter menemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, pasien tetap dapat diarahkan untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang sesuai.
Dengan demikian, layanan dokter ke rumah dapat menjadi bagian dari pemantauan pasien pasca stroke hemoragik yang sudah stabil, sementara gejala stroke baru atau tanda kegawatan tetap membutuhkan pertolongan medis segera di fasilitas kesehatan.
Disclaimer:
Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi, pemeriksaan, maupun diagnosis oleh dokter. Stroke hemoragik merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan segera. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada stroke hemoragik, segera cari pertolongan medis darurat.Â
Referensi
- Johns Hopkins Medicine. Types of Stroke. Diakses pada 12 September 2026, dari:
https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/stroke/types-of-stroke - CDC. 2024. About Stroke. Diakses pada 12 September 2026, dari:
https://www.cdc.gov/stroke/about/index.html - Pacific Neuroscience Institute. 2022. What Is the Difference Between Ischemic stroke and Hemorrhagic Stroke?. Diakses pada 12 September 2026, dari:
https://www.pacificneuroscienceinstitute.org/blog/neuro-conditions-brain/what-is-the-difference-between-ischemic-stroke-and-hemorrhagic-stroke/Â - AHA|ASA Journals. 2022. 2022 Guideline for the Management of Patients With Spontaneous Intracerebral Hemorrhage: A Guideline From the American Heart Association/American Stroke Association. Diakses pada 12 September 2026, dari:
https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/STR.0000000000000407Â





