Perut Sakit Saat Puasa? Ini Penyebab & Solusinya

Perut sakit saat puasa? Kenali penyebab, cara mengatasi, dan tanda kapan perlu konsultasi dokter agar puasa tetap nyaman.

Puasa memang memberi banyak manfaat kesehatan, tetapi kami sering menerima keluhan perut sakit saat puasa terutama saat awal Ramadan atau ketika pola makan berubah. Jika perut sakit saat puasa terasa mengganggu aktivitas ibadah, Anda bisa mempertimbangkan konsultasi dokter terpercaya untuk mendapatkan arahan medis yang tepat.

Melalui artikel ini, kami ingin membantu Anda memahami perut sakit saat puasa, mulai dari penyebab hingga cara mengatasinya agar puasa tetap nyaman dan aman.

Penyebab Perut Sakit Saat Puasa

Secara umum, perut sakit saat puasa sering dipicu perubahan pola makan, produksi asam lambung, atau kondisi pencernaan tertentu. Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui, termasuk penyebab perut perih saat puasa yang cukup sering terjadi:

1. Asam Lambung Meningkat

Saat berpuasa, lambung tetap memproduksi asam meski tidak ada makanan yang dicerna. Jika kondisi ini berlangsung lama, dinding lambung bisa teriritasi sehingga muncul rasa perih, panas di ulu hati, kembung, hingga mual. Inilah salah satu penyebab perut perih saat puasa yang paling sering kami temui, terutama pada orang dengan riwayat maag atau refluks asam lambung.

2. Pola Makan Tidak Teratur

Perubahan jadwal makan drastis saat Ramadan membuat sistem pencernaan perlu beradaptasi. Makan terlalu cepat, porsi berlebihan saat berbuka, atau langsung tidur setelah makan dapat mengganggu proses pencernaan. Kebiasaan ini bisa memicu rasa begah, nyeri perut, hingga asam lambung naik.

3. Makanan Pemicu Iritasi

Beberapa jenis makanan cenderung merangsang produksi asam lambung atau mengiritasi saluran cerna, seperti makanan pedas, asam, gorengan, minuman berkafein, serta makanan tinggi gula. Pada orang dengan riwayat sakit maag saat puasa, konsumsi makanan tersebut dapat memperparah keluhan lambung.

4. Dehidrasi

Kurangnya cairan saat puasa dapat memperlambat metabolisme dan sistem pencernaan. Kondisi ini bisa menyebabkan sembelit, kram perut, atau rasa tidak nyaman di area lambung. Dehidrasi juga membuat tubuh lebih sensitif terhadap asam lambung.

5. Gangguan Lambung Tertentu

Beberapa kondisi medis seperti gastritis, GERD, atau tukak lambung dapat kambuh ketika pola makan berubah selama puasa. Kondisi tersebut berkaitan langsung dengan produksi asam lambung dan sensitivitas dinding lambung. Jika keluhan muncul berulang, semakin berat, atau disertai gejala lain seperti muntah, nyeri hebat, atau penurunan berat badan, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya.

6. Stres dan Faktor Psikologis

Stres, kecemasan, atau kurang tidur selama puasa bisa memicu peningkatan hormon tertentu yang merangsang produksi asam lambung. Selain itu, stres juga dapat mempengaruhi motilitas usus sehingga muncul rasa nyeri, mulas, atau kembung.

7. Konsumsi Obat Tertentu

Beberapa obat, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), antibiotik tertentu, atau suplemen dalam kondisi perut kosong, dapat mengiritasi lambung. Jika dikonsumsi tanpa pengaturan waktu yang tepat selama puasa, risiko keluhan lambung bisa meningkat.

Baca juga:  Manfaat Puasa bagi Kesehatan: Detoks Alami hingga Jaga Berat Badan

Cara Mengatasi Sakit Perut Saat Puasa

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi perut sakit saat puasa dan menjaga kenyamanan selama beribadah:

1. Pilih Menu Sahur Ramah Lambung

Kami biasanya menyarankan memilih makanan yang mudah dicerna agar risiko perut sakit saat puasa bisa diminimalkan. Prioritaskan karbohidrat kompleks seperti oatmeal, nasi merah, atau roti gandum karena dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga energi lebih stabil. Tambahkan protein rendah lemak seperti telur, ikan, ayam tanpa kulit, tahu, atau tempe untuk menjaga rasa kenyang lebih lama.

Sayur dan buah tinggi serat juga penting, tetapi sebaiknya tidak berlebihan agar tidak memicu kembung. Hindari makanan terlalu pedas, asam, gorengan, serta minuman berkafein karena dapat merangsang produksi asam lambung.

2. Jangan Lewatkan Sahur

Sahur berperan penting menjaga metabolisme tubuh tetap stabil selama puasa. Tanpa sahur, lambung kosong lebih lama sehingga asam lambung berisiko meningkat dan memicu rasa perih atau nyeri. Kami biasanya menyarankan sahur mendekati waktu imsak agar cadangan energi dan cairan lebih optimal. Usahakan makan perlahan dan tidak terburu-buru supaya pencernaan bekerja lebih baik.

3. Cukupi Kebutuhan Cairan

Kebutuhan cairan tetap harus terpenuhi meski waktu minum terbatas. Anda bisa menerapkan pola minum bertahap dari berbuka sampai sahur, misalnya dua gelas saat berbuka, beberapa gelas di malam hari, dan sisanya saat sahur. Air putih tetap pilihan terbaik, sementara minuman manis, soda, atau kopi sebaiknya dibatasi karena dapat memicu dehidrasi dan iritasi lambung.

4. Makan Bertahap Saat Berbuka

Saat berbuka, kami menyarankan tidak langsung makan berat. Awali dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma, buah, atau sup hangat untuk membangunkan sistem pencernaan. Setelah jeda sekitar 10-20 menit, baru konsumsi makanan utama dengan porsi wajar. Cara ini membantu lambung beradaptasi setelah seharian kosong sehingga risiko kembung atau nyeri bisa berkurang.

5. Kelola Stres dan Istirahat Cukup

Faktor psikologis sering kali berpengaruh pada kesehatan pencernaan. Stres, kelelahan, dan kurang tidur dapat meningkatkan produksi asam lambung. Kami menyarankan menjaga kualitas tidur, melakukan relaksasi ringan, serta tetap aktif secara fisik dengan olahraga ringan setelah berbuka agar kondisi tubuh lebih stabil selama puasa.

6. Gunakan Obat Bila Diperlukan

Jika keluhan lambung cukup mengganggu, obat seperti antasida atau obat penurun asam lambung bisa membantu meredakan gejala. Namun, penggunaannya sebaiknya sesuai anjuran dokter, terutama jika Anda punya riwayat maag, GERD, atau gangguan lambung lainnya. Konsultasi medis penting agar obat yang digunakan tepat dan aman.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika perut sakit saat puasa disertai gejala berikut, sebaiknya segera mencari bantuan medis:

1. Nyeri hebat atau berlangsung lama

Jika nyeri terasa sangat kuat, menetap berjam-jam, atau muncul berulang selama beberapa hari puasa, kondisi ini bisa menandakan iritasi lambung berat, tukak lambung, atau gangguan pencernaan lain yang memerlukan pemeriksaan dokter.

2. Mual dan muntah terus-menerus

Mual ringan kadang masih wajar, tetapi jika muntah berulang hingga sulit makan atau minum saat berbuka dan sahur, risiko dehidrasi dan gangguan lambung bisa meningkat.

3. BAB hitam atau muntah darah

Warna feses hitam pekat atau muntah yang bercampur darah bisa menjadi tanda perdarahan saluran cerna. Kondisi ini perlu penanganan medis segera dan tidak sebaiknya ditunda.

4. Berat badan turun tanpa sebab jelas

Penurunan berat badan drastis selama puasa, terutama disertai nyeri perut, bisa mengindikasikan masalah pencernaan kronis atau gangguan penyerapan nutrisi.

5. Nyeri tidak membaik meski pola makan sudah dijaga 

Jika sudah mengatur sahur, berbuka, hidrasi, serta menghindari makanan pemicu tetapi keluhan tetap muncul, pemeriksaan medis biasanya diperlukan untuk memastikan tidak ada gangguan lambung tertentu.

Pemeriksaan dokter penting untuk memastikan kondisi lambung tetap aman.

Perut Sakit Saat Puasa? Konsultasikan Sekarang!

Secara umum, perut sakit saat puasa dapat terjadi akibat asam lambung meningkat, pola makan berubah, atau kondisi lambung tertentu. Dengan pengaturan makan, hidrasi cukup, dan gaya hidup sehat, keluhan ini biasanya bisa dikendalikan. 

Namun, jika perut sakit saat puasa tidak kunjung membaik, Anda bisa memanfaatkan layanan dokter ke rumah melalui Medi-call agar mendapatkan penanganan medis tanpa harus keluar rumah.

Tanpa ribet, tenaga medis profesional siap datang sesuai kebutuhan Anda. Hubungi Customer Service 24 jam Medi-Call

Email Blast Layanan Dokter Review GMB Medi-Call

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis. Jika keluhan berlanjut, memburuk, atau disertai gejala serius, segera konsultasikan dengan dokter.

Ditinjau oleh: dr. Stanislaus Ivanovich K

Referensi
  • Fasting and Digestive Disorders [Internet]. Cleveland Clinic Abu Dhabi. Available from: https://www.clevelandclinicabudhabi.ae/en/health-byte/ramadan/fasting-and-digestive-disorders
  • Kubala J. 9 Potential Intermittent Fasting Side Effects [Internet]. Healthline. 2021. Available from: https://www.healthline.com/nutrition/intermittent-fasting-side-effects
  • Harvard Health Publishing. 4 Intermittent Fasting Side Effects to Watch Out for [Internet]. Harvard Health. 2020. Available from: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/4-intermittent-fasting-side-effects-to-watch-out-for

Author

Spread the love
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Terkait

Archives