Dokter, Info Kesehatan, Penyakit A-Z

Makanan untuk Anemia: Pilihan Nutrisi yang Mendukung Pemulihan

Makanan untuk anemia dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. Pola makan yang tepat juga mendukung cara mengatasi anemia, terutama jika anemia disebabkan oleh kekurangan nutrisi. Namun, pemilihan makanan perlu disesuaikan dengan penyebab anemia dan dapat dikombinasikan dengan pengobatan sesuai anjuran dokter agar hasilnya lebih optimal.

Makanan Apa yang Baik untuk Anemia?

Tidak ada satu jenis makanan yang dapat mengatasi anemia secara langsung. Melansir dari World Health Organization (WHO), penderita anemia dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C karena nutrisi tersebut berperan dalam pembentukan sel darah merah dan hemoglobin.

Pemilihan makanan juga perlu disesuaikan dengan jenis anemia. Misalnya, anemia defisiensi besi memerlukan asupan makanan tinggi zat besi, sedangkan anemia akibat kekurangan vitamin B12 membutuhkan sumber makanan hewani atau makanan yang difortifikasi.

Dalam praktiknya, dokter Medi-Call juga mengedukasi pasien bahwa pola makan sehat merupakan bagian penting dari penanganan anemia, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan penyebab yang mendasarinya.

Nutrisi yang Penting untuk Penderita Anemia

Setiap nutrisi memiliki fungsi yang berbeda dalam membantu pembentukan sel darah merah. Karena itu, penderita anemia perlu memastikan asupan nutrisi berikut terpenuhi melalui pola makan sehari-hari.

Zat Besi

Anemia defisiensi zat besi dapat dicegah dengan mengonsumsi sumber hewani yang kaya akan besi heme dan mudah diserap tubuh. Namun, tingginya harga pangan hewani membuat akses masyarakat Indonesia terbatas, sehingga angka prevalensi anemia nasional tetap tinggi di berbagai kelompok usia. Zat besi merupakan komponen utama hemoglobin yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menurunkan produksi hemoglobin sehingga menjadi penyebab paling umum anemia . Zat besi heme dari makanan hewani lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi non-heme dari tumbuhan, namun dapat ditingkatkan dengan bantuan vitamin C.

Vitamin B12

Vitamin B12 membantu pembentukan sel darah merah sekaligus menjaga fungsi sistem saraf. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan anemia megaloblastik, yaitu kondisi ketika sel darah merah berukuran lebih besar dari normal namun tidak berfungsi optimal. Vitamin B12 secara alami hanya ditemukan pada makanan hewani.

Asam Folat

Asam folat atau vitamin B9 dibutuhkan dalam pembentukan DNA dan perkembangan sel darah merah di sumsum tulang. Asupan folat yang cukup juga penting selama kehamilan karena mendukung pertumbuhan janin.

Vitamin C

Vitamin C tidak berperan langsung dalam pembentukan sel darah merah, tetapi dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati. Oleh karena itu, mengombinasikan makanan tinggi zat besi dengan buah atau sayuran kaya vitamin C dapat membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.

Tabel Makanan Berdasarkan Kandungan Nutrisi

NutrisiContoh MakananManfaat
Zat besi hemeDaging sapi, daging kambing, hati ayam/sapi, ikan, kerangMudah diserap tubuh untuk membantu pembentukan hemoglobin
Zat besi non-hemeBayam, tempe, tahu, kacang-kacangan,Membantu memenuhi kebutuhan zat besi, terutama jika dikonsumsi bersama vitamin C
Vitamin B12Telur, susu dan produk olahan seperti keju dan yoghurt, ikan, dagingMendukung pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf
Asam folatBayam, brokoli, asparagus, alpukatMembantu pembentukan DNA dan sel darah merah
Vitamin CJeruk, jambu biji, kiwi, stroberi, tomatMeningkatkan penyerapan zat besi non heme dari makanan nabati

Makanan Tinggi Zat Besi untuk Anemia

Zat besi merupakan nutrisi yang paling sering dikaitkan dengan anemia. Namun, sumber zat besi terbagi menjadi dua jenis, yaitu zat besi heme dari pangan hewani dan zat besi non-heme dari pangan nabati. Mengombinasikan keduanya dalam menu sehari-hari dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi secara lebih seimbang.

Sumber Hewani 

Sumber zat besi heme memiliki tingkat penyerapan yang lebih tinggi sehingga lebih mudah dimanfaatkan tubuh. Beberapa pilihan bahan makanan indonesia yang dapat dikonsumsi antara lain:

Daging sapi tanpa lemak
Daging ayam
Hati sapi atau hati ayam (dikonsumsi secukupnya).
Ikan, seperti teri, tuna, dan salmon, dan sarden.
Kerang segar dan udang

Selain zat besi, makanan tersebut juga mengandung protein dan vitamin B12 yang mendukung pembentukan sel darah merah.

Baca juga:  Penyebab Anemia: Kenapa Seseorang Bisa Mengalaminya?

Sumber Nabati

Sumber zat besi non-heme tetap penting, terutama bagi vegetarian atau masyarakat yang ingin memperbanyak konsumsi pangan nabati. Beberapa pilihan bahan makanan indonesia, meliputi:

Bayam merah, daun semanggi, brokoli,kangkung daun singkong
Kacang-kacangan (seperti kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong)
Tempe kedelai dan tahu.
Daun selasih

Zat besi yang terkandung dalam makanan nabati umumnya sulit diserap tubuh secara optimal, meskipun jumlah kandungannya cukup tinggi. Oleh sebab itu, penyerapannya perlu ditingkatkan dengan mengombinasikan makanan nabati bersama makanan hewani. Contohnya, sup yang ditambahkan ayam, ceker ayam, leher ayam, atau ikan.

Buah dan Sayuran yang Baik untuk Anemia

Selain makanan tinggi zat besi, buah dan sayuran berikut juga berperan dalam mendukung pembentukan sel darah merah.

Buah

Buah kaya vitamin C yang dianjurkan, antara lain:

Jeruk
Jambu biji
Kiwi
Stroberi
Pepaya

Buah-buahan tersebut dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi jus tanpa tambahan gula berlebihan agar kandungan gizinya tetap terjaga.

Sayuran

Sayuran hijau merupakan sumber folat dan zat besi non-heme yang baik. Beberapa pilihan yang dapat dimasukkan ke dalam menu sehari-hari meliputi:

Bayam
Brokoli
Kangkung
Daun singkong
Asparagus
Paprika merah

Memasak sayuran dengan cara dikukus atau ditumis sebentar dapat membantu mempertahankan kandungan vitamin di dalamnya.

Minuman yang Mendukung Penyerapan Zat Besi

Selain makanan, pilihan minuman juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi. Mengonsumsi minuman berikut saat makan dapat membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.

Air Putih

Air putih merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan tanpa memengaruhi penyerapan zat besi. Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga membantu menjaga volume darah dan mendukung fungsi tubuh secara umum.

Jus Tinggi Vitamin C

Jus dari buah yang kaya vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, kiwi, atau tomat, dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Sebaiknya pilih jus tanpa tambahan gula dan konsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi.

Makanan dan Minuman yang Dapat Menghambat Penyerapan Zat Besi

Beberapa makanan dan minuman berikut mengandung senyawa yang dapat mengurangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan utama. Karena itu, sebaiknya beri jeda sekitar 1–2 jam agar penyerapan zat besi tetap optimal.

Teh

Teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi, terutama zat besi non-heme. Hindari minum teh saat atau segera setelah makan jika Anda sedang berupaya meningkatkan kadar zat besi.

Kopi

Polifenol dalam kopi juga dapat mengurangi penyerapan zat besi. Jika ingin minum kopi, sebaiknya beri jeda setelah makan atau setelah mengonsumsi suplemen zat besi.

Makanan atau Suplemen Tinggi Kalsium

Tablet kalsium dosis tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi. Susu hewani, keju, dan yogurt merupakan sumber kalsium yang baik, tetapi konsumsinya bersamaan dengan makanan tinggi zat besi dapat mengurangi penyerapan zat besi. Produk susu tetap dapat dikonsumsi pada waktu yang berbeda.

Fitat pada Serealia Utuh

Sereal, kacang-kacangan, dan beberapa jenis biji-bijian mengandung fitat yang dapat mengikat zat besi. Meski demikian, makanan ini tetap bergizi dan tidak perlu dihindari. Proses perendaman atau fermentasi (misalnya pada pembuatan tempe) dapat membantu mengurangi kadar fitat sehingga zat besi lebih mudah diserap.

Tabel Makanan yang Mendukung vs Menghambat Penyerapan Zat Besi

Mendukung Penyerapan Zat Besi Menghambat Penyerapan Zat Besi
Makanan/minuman tinggi vitamin C (jeruk, jambu biji, kiwi, stroberi)Teh
Daging ikan dan ayam (meningkatkan penyerapan zat besi non heme dan sekitarnya)Kopi
Air putihSusu, keju, yogurt jika dikonsumsi bersamaan
Makanan yang difermentasi seperti tempe (mengurangi kadar fitat)Serelia utuh dan makanan tinggi fitat
Kombinasi makanan tinggi zat besi dan vitamin CTeh atau kopi segera setelah makan

Bagaimana Menyusun Pola Makan untuk Penderita Anemia?

Pola makan yang tepat tidak hanya berfokus pada jenis makanan, tetapi juga cara mengombinasikan dan waktu mengonsumsinya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pola makan penderita anemia.

Baca juga:  Asam Urat dan Kaitannya dengan Zat Purin yang Kita Konsumsi

Kombinasi Zat Besi dan Vitamin C

Padukan makanan tinggi zat besi dengan sumber vitamin C, misalnya daging sapi dengan paprika atau tempe dengan tomat. Kombinasi ini membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama dari sumber nabati.

Variasi Menu

Konsumsi menu yang beragam agar kebutuhan zat besi, vitamin B12, folat, protein, dan vitamin C dapat terpenuhi. Variasi makanan juga membantu menjaga pola makan tetap seimbang.

Jadwal Makan

Usahakan makan secara teratur dan hindari melewatkan waktu makan. Beri jeda sekitar 1–2 jam antara konsumsi teh, kopi, atau produk tinggi kalsium dengan makanan tinggi zat besi maupun suplemen zat besi.

Kepatuhan terhadap Terapi bila Ada

Perubahan pola makan merupakan bagian dari cara mengatasi anemia, tetapi tidak selalu cukup. Jika dokter meresepkan suplemen zat besi atau terapi lain, konsumsilah sesuai anjuran dan lakukan kontrol sesuai jadwal untuk memantau perkembangan kondisi.

Apakah Makanan Saja Cukup untuk Mengatasi Anemia?

Pada kondisi anemia ringan, makanan bergizi dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah. Namun, pada beberapa kasus, pola makan saja tidak cukup untuk mengatasi anemia, terutama jika penyebabnya adalah perdarahan, penyakit kronis, gangguan penyerapan nutrisi, atau kekurangan vitamin B12 yang berat.

Karena itu, penting untuk mengetahui penyebab anemia melalui pemeriksaan medis. Dokter dapat menentukan apakah perubahan pola makan saja sudah memadai atau perlu dikombinasikan dengan suplemen maupun terapi lainnya. Dokter Medi-Call juga dapat memberikan edukasi mengenai pola makan serta membantu mengarahkan pasien untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhannya.

Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, pingsan, perdarahan yang tidak berhenti, atau gejala anemia yang semakin memburuk.

Pola Makan Seimbang Membantu Mendukung Pemulihan Anemia

Mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C merupakan langkah penting dalam mendukung pemulihan anemia. Lengkapi dengan pola makan yang bervariasi, kombinasikan sumber zat besi dengan vitamin C, serta hindari konsumsi teh atau kopi bersamaan dengan waktu makan agar penyerapan zat besi lebih optimal.

Meski demikian, setiap jenis anemia memiliki penyebab yang berbeda. Jika gejala tidak membaik atau hasil pemeriksaan menunjukkan anemia, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Disclaimer:

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi maupun diagnosis oleh dokter. Jika Anda mengalami gejala anemia atau memiliki kondisi medis tertentu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi

1. Kementerian Kesehatan RI (2023) Buku Saku Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil dan Remaja Putri. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.
2. Kementerian Kesehatan RI. (2015). Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
4. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Iron Fact Sheet for Health Professionals. Diperbarui 2025.Diakses pada 28 Juli 2026, dari:
https://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/
5. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Vitamin B12 Fact Sheet for Health Professionals. Diperbarui 2025. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:
https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminB12-HealthProfessional/
6. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Folate Fact Sheet for Health Professionals. Diperbarui 2025. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:
https://ods.od.nih.gov/factsheets/Folate-HealthProfessional/
7. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). 2022. Anemia, What Is Anemia?Diakses pada 27 Juli 2026, dari:
https://www.nhlbi.nih.gov/health/anemia
8. British Society for Gastroenterology. BSG Guidelines for the Management of Iron Deficiency Anaemia in Adults. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:
https://www.bsg.org.uk/clinical-resource/guidelines-iron-deficiency-anaemia-in-adults
9. World Health Organization. Guideline on haemoglobin cut-offs to define anaemia in individuals and populations. 2024. Diakses pada 28 Juli 2026, dari:
https://www.guidelinecentral.com/guideline/3534081/#section-3534088
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted