Anemia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal. Hemoglobin adalah komponen di dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru menuju seluruh jaringan tubuh. Saat kadar hemoglobin menurun, pasokan oksigen ikut berkurang sehingga berbagai organ tidak memperoleh suplai sesuai kebutuhannya.
Riskesdas 2013 mencatat prevalensi anemia nasional sebesar 21,7%, di mana angka pada ibu hamil mencapai 37,1%. Selain itu, kasus anemia lebih tinggi ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Banyak orang menganggap anemia sama dengan rasa lelah setelah beraktivitas. Padahal, kondisi ini memiliki penyebab yang beragam dan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalahnya. Pada sebagian orang, anemia berkaitan dengan kekurangan zat besi. Pada kasus lain, kondisi tersebut muncul akibat perdarahan, gangguan penyerapan nutrisi, penyakit kronis, hingga kelainan pada sumsum tulang.
Karena penyebabnya tidak selalu sama, penanganan anemia perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan medis. Langkah tersebut membantu dokter menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Anemia Secara Medis
Secara medis, anemia adalah keadaan ketika tubuh memiliki jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin di bawah batas normal. Hemoglobin adalah protein di dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen menuju seluruh jaringan tubuh. Apabila jumlahnya menurun, distribusi oksigen menuju organ dan jaringan ikut berkurang sehingga berbagai fungsi tubuh ikut terpengaruh. Pembentukan sel darah merah berlangsung di sumsum tulang dan memerlukan berbagai zat gizi, terutama zat besi, vitamin B12, serta asam folat. Bila salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi atau proses pembentukannya di sumsum tulang mengalami gangguan, produksi sel darah merah ikut menurun.
Anemia terdiri atas beberapa jenis, antara lain:
Bagaimana Anemia Terjadi?
Tubuh terus memproduksi sel darah merah baru sekaligus mengganti sel yang telah tua. Dalam kondisi normal, kedua proses tersebut berada dalam keseimbangan. Anemia muncul ketika keseimbangan itu terganggu sehingga jumlah sel darah merah menurun atau kadar hemoglobin menjadi lebih rendah dari nilai normal. Secara umum, anemia terjadi melalui tiga mekanisme berikut.
1. Produksi sel darah merah menurun
Pembentukan sel darah merah membutuhkan zat besi, vitamin B12, asam folat, serta sumsum tulang yang berfungsi dengan baik. Jika tubuh kekurangan nutrisi ini atau sumsum tulang mengalami gangguan, produksi sel darah merah ikut berkurang. Akibatnya, kadar hemoglobin ikut menurun dan tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.
2. Kehilangan darah
Perdarahan menjadi salah satu penyebab anemia yang paling banyak ditemukan. Sel darah merah keluar bersama darah yang hilang. Kehilangan darah bisa terjadi akibat menstruasi dengan volume berlebih, cedera, tindakan operasi, perdarahan saluran cerna, maupun kondisi medis lainnya yang menyebabkan perdarahan berulang. Bila perdarahan berlangsung terus-menerus, tubuh tidak mampu mengganti sel darah merah secepat darah yang hilang, sehingga timbul anemia.
3. Sel darah merah rusak lebih cepat
Dalam kondisi normal, sel darah merah memiliki usia tertentu sebelum diganti dengan sel baru. Pada kondisi tertentu, sel darah merah mengalami penghancuran sebelum mencapai usia normalnya. Akibatnya, jumlah sel darah merah di dalam sirkulasi menurun karena proses pembentukannya tidak mampu mengimbangi kecepatan penghancuran tersebut. Saat kadar hemoglobin menurun, jantung dan paru-paru bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Kondisi inilah yang membuat sebagian penderita mengalami jantung berdebar atau napas terasa pendek ketika beraktivitas.
Apakah Anemia Sama Dengan Kurang Darah?
Istilah “kurang darah” sudah lama digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dalam dunia medis, istilah tersebut memang mengacu pada anemia. Meski begitu, masih ada anggapan bahwa “kurang darah” berarti volume darah di dalam tubuh berkurang. Kenyataannya, pada sebagian besar kasus anemia, volume darah tetap berada dalam batas normal. Perubahan justru terjadi pada jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin di dalam darah.
Karena itu, penanganan anemia tidak selalu berkaitan dengan konsumsi makanan tinggi zat besi atau suplemen penambah darah. Langkah penanganan sebenarnya bergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya berasal dari penyakit kronis, perdarahan, gangguan pembentukan sel darah merah, atau kelainan genetik, sumber masalah tersebut perlu ditangani. Pemeriksaan darah menjadi langkah awal untuk memastikan ada atau tidaknya anemia sekaligus membantu dokter mencari penyebab yang mendasarinya.
Mengapa Anemia Menjadi Masalah Kesehatan?
Setiap sel di dalam tubuh memerlukan oksigen agar mampu menjalankan fungsinya. Oksigen dibawa oleh hemoglobin yang berada di dalam sel darah merah. Ketika kadar hemoglobin menurun, pasokan oksigen menuju organ tubuh ikut berkurang. Akibatnya, tubuh memberi “sinyal” melalui berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
Pada anak-anak, anemia yang berlangsung lama bisa menghambat proses tumbuh kembang. Pada ibu hamil, kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan selama kehamilan maupun persalinan.
Sementara itu, pada lanjut usia (lansia), anemia dapat memperberat penyakit yang sudah ada, terutama gangguan jantung dan ginjal. Karena alasan tersebut, anemia sebaiknya dikenali sejak awal agar penyebabnya segera diketahui dan penanganan bisa dimulai lebih cepat.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Anemia?
Anemia bisa terjadi pada semua kelompok usia. Meski demikian, beberapa orang memiliki peluang lebih besar mengalami kondisi ini, antara lain:
Bagi kelompok tersebut, pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mendeteksi kadar hemoglobin lebih awal, terutama ketika mulai muncul keluhan yang mengarah ke anemia.
Apakah Anemia Berbahaya?
Tingkat keparahan anemia bergantung pada penyebab serta kadar hemoglobin yang dimiliki seseorang. Pada anemia ringan, keluhan yang muncul mungkin hanya berupa rasa lelah atau tubuh terasa kurang bertenaga.
Namun, bila kadar hemoglobin semakin rendah, pasokan oksigen menuju organ penting ikut berkurang sehingga risiko gangguan kesehatan menjadi lebih besar. Anemia yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi, seperti:
Risiko tersebut menjadi alasan mengapa gejala anemia yang berlangsung terus-menerus tidak sebaiknya diabaikan. Pemeriksaan sejak awal membantu mengetahui penyebab kondisi tersebut sebelum menimbulkan masalah yang lebih serius.
Fakta dan Mitos Tentang Anemia
Masih ada berbagai anggapan yang kurang sesuai mengenai anemia. Berikut beberapa fakta yang penting untuk diketahui.
Mitos: Anemia hanya dialami oleh perempuan.
Fakta: Remaja putri dan wanita usia subur rentan mengalami anemia, namun anemia dapat dialami siapa saja tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Penyebabnya pun berbeda-beda tergantung pada setiap kelompok usia dan kondisi kesehatan.
Mitos: Semua anemia muncul akibat kekurangan zat besi
Fakta: Kekurangan zat besi memang menjadi penyebab yang paling banyak ditemukan. Namun, anemia juga berkaitan dengan kekurangan vitamin B12, asam folat, penyakit kronis, gangguan sumsum tulang, maupun kelainan genetik.
Mitos: Suplemen zat besi selalu menjadi solusi
Fakta: Suplemen zat besi diberikan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan zat besi. Penggunaan suplementasi zat besi tanpa pemeriksaan medis tidak dianjurkan karena penyebab anemia belum tentu berasal dari kekurangan zat besi.
Mitos: Rasa lelah selalu menandakan anemia
Fakta: Kelelahan memiliki banyak penyebab, mulai dari kurang tidur, stres, beban kerja berlebih,hingga berbagai penyakit tertentu. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan anemia atau kondisi lainnya.
Kapan Harus ke Dokter?
Pemeriksaan medis perlu dilakukan apabila muncul keluhan seperti:
Bila kondisi tersebut muncul, artinya perlu penanganan medis segera. Dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan darah untuk mengetahui penyebab anemia. Setelah penyebabnya diketahui, rencana penanganan akan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.
Butuh Pemeriksaan di Rumah?
Memahami apa itu anemia menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan. Kondisi ini terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal sehingga pasokan oksigen menuju jaringan tubuh ikut berkurang. Karena penyebab anemia sangat beragam, pemeriksaan medis diperlukan sebelum menentukan penanganan.
Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami keluhan yang mengarah pada anemia, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda. Melalui layanan home service cek darah, tim Medi-callmelakukan pemeriksaan langsung di rumah oleh tenaga medis profesional. Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kondisi pasien sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Catatan Medis: Informasi dalam artikel ini bertujuan sebagai edukasi kesehatan. Diagnosis dan penanganan anemia perlu dilakukan oleh tenaga medis berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.




