Ini Bahaya Wabah Penyakit Difteri yang Harus Dipahami

Bagikan artikel ini

Difteri sempat ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia pada akhir tahun 2017. Mungkin banyak masyarakat awam yang masih belum benar-benar memahami penyakit ini.

Difteri diakibatkan karena kuman Corynebacterium Diptheriae yang kembali mewabah.

Menurut data, pada November 2017 lalu tercatat sebanyak 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa penyakit ini, antara lain provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Banten, Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Provinsi yang menempati provinsi paling banyak terjangkit kasus penyakit ini adalah Jawa Timur.

Kemudian disusul dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Bahaya Penyakit Difteri Pada Penderitanya

Dari banyaknya kasus yang dilaporkan, ada sebanyak 32 kasus yang penderitanya meninggal dunia.

Bahkan wabah ini terus meningkat jumlahnya. Ada ratusan kasus difteri yang terjadi di berbagai daerah. Tentu kondisi ini sangat mengkhawatirkan bukan?

Ternyata wabah ini dapat disebabkan karena ketidakinginan orang tua memberikan imunisasi pada anak.

Biasanya rentang waktu setelah terkena diagnosis hingga meninggal dunia sekitar 5 hari hingga seminggu.

Tentu kondisinya akan berbeda-beda pada setiap penderita karena akan tergantung pada derajat keparahan penyakitnya.

Rata-rata penderita yang meninggal memang tidak diimunisasi, atau diimunisasi namun tidak lengkap.

Ada faktor lain juga, seperti terlambat dibawa ke rumah sakit, kuman mengeluarkan racun sehingga dapat mengganggu fungsi jantung, atau otak kurang oksigen.

Semakin cepat ditangani, tentu akan semakin besar kemungkinan untuk sembuh.

Penyebab Penyebaran Difteri

Difteri sangat mudah menular melalui bersin atau batuk saja.

Hal ini bisa terjadi karena bakteri tersebut memang banyak menghinggapi hidung dan tenggorokan.

Bakteri yang banyak tersebut membentuk selaput putih dan tebal yang dapat menutupi saluran pernapasan jika dibiarkan terlalu lama.

Bahkan bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun atau toksin yang dapat melumpuhkan otot jantung dan saraf manusia.

Hal ini lah yang menyebabkan kematian pada beberapa penderita. Penyakit ini dapat menyerang bayi dan anak-anak.

Namun penderitanya paling banyak balita, anak usia sekolah, dan remaja. 

Telah disebutkan di atas bahwa sebagian besar penderita difteri disebabkan karena belum pernah diimunisasi sama sekali.

Lebih tepatnya imunisasi DPT. Imunisasi di luar itu memang tidak bisa mencegah penyakit ini.

Ada 2 kelompok untuk penyebabnya, yaitu pertama, kelompok penderita yang tidak pernah diimunisasi sama sekali.

Kedua, kelompok penderita yang telah diimunisasi, namun tidak lengkap.

Secara ideal, imunisasi difteri ada beberapa tahapan.

Hingga usia 1 tahun, harus DPT sebanyak tiga kali. Kemudian, usia 2 tahun ada 4 kali DPT, sampai usia 5 tahun sebaiknya ada sebanyak 5 kali DPT, usia 6 tahun sebanyak 6 kali DPT, usia 7 tahun sebanyak 7 kali DPT, hingga tamat SD sebaiknya sudah melakukan 8 kali DPT.

Setelah itu, untuk usia di atas 7 tahun, nama vaksin sudah bukan DPT lagi, namun Td. Vaksin ini berbeda, namun yang terpenting harus tetap ada komponen D.

Gejala Penyakit Difteri

Bagi para penderita penyakit ini, ada beberapa gejala awal yang bisa dirasakan, seperti adanya selaput putih tebal pada hidung atau tenggorokan, apalagi jika leher juga membengkak.

Jika kondisinya sudah seperti ini, sebaiknya segera minta penanganan dokter.

Cara Menangani Difteri

Apabila anak Anda didiagnosa penyakit difteri, maka harus segera diberikan antibiotik dan rawat inap.

Bahkan penderita penyakit ini harus diisolasi selama kurang lebih 2 minggu.

Kemudian orang-orang disekitarnya, seperti orang tua, saudara, atau teman, juga harus diperiksa.

Itu tadi bahaya penyakit difteri yang perlu Anda ketahui. Ternyata sangat berbahaya bukan? Jangan anggap remeh penyakit ini, ya.

Ada penurunan minat pada orang tua terkait melakukan imunisasi pada anaknya.

Penurunan minat ini sudah terjadi selama kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir.

Hal ini disampaikan oleh Jane Soepardi yang merupakan Direktur Surveilans dan Karantina Kementrian Kesehatan.

Padahal hal ini lah yang dapat memicu bakteri Corynebacterium Diptheriae hinggap di tubuh.

Berikan imunisasi difteri yang lengkap kepada anak Anda.

Medi-Call Writers

Medi-Call Writers

Content writer on Medi-Call's Blog

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.