Mengatasi luka berbau akibat infeksi harus sebaiknya dilakukan dengan cara yang benar agar kerusakan tidak semakin meluas. Kenali cara rawat di rumah dan tanda kapan segera ke dokter.
Luka berbau disebabkan oleh area luka tidak bersih, sering terkena debu atau benda lainnya yang tidak steril serta perawatan yang kurang maksimal.
Penderita diabetes lebih rentan mengalami luka berbau dibandingkan orang lain.
Peningkatan kadar gula dalam tubuh dapat menghambat aliran pembuluh darah dan merusak saraf sehingga menimbulkan luka pada penderita diabetes.
Mengatasi luka berbau perlu dilakukan dengan benar karena bau biasanya menandakan adanya infeksi atau jaringan mati di area luka. Bila dibiarkan, infeksi dapat menyebar lebih dalam, menghambat penyembuhan, bahkan memicu komplikasi berat seperti sepsis, terutama pada lansia, penderita diabetes, atau pasien dengan daya tahan tubuh lemah.
Luka yang mengeluarkan nanah berwarna kuning atau hijau dan berbau tidak sedap umumnya sudah terkontaminasi bakteri dan membutuhkan perhatian serius. Dalam kondisi ini, perawatan luka yang benar di rumah penting, namun Anda tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga medis, termasuk melalui layanan perawat luka home care Medi-Call.
Mengatasi luka berbau perlu dilakukan dengan benar karena bau biasanya menandakan adanya infeksi atau jaringan mati di area luka, terutama pada lansia, penderita diabetes, atau pasien dengan daya tahan tubuh lemah.
Catatan penting: Luka berbau yang disertai demam, nyeri hebat, atau menyebar cepat merupakan keadaan darurat medis dan perlu penanganan dokter secepatnya.
Menggunakan pakaian yang tidak ketat dan tidak menyerap keringat dapat memberikan rasa nyaman di kulit serta mengatasi luka berbau. Berikut ini beberapa cara mengatasi luka berbau yang perlu Anda ketahui:
- Membalut luka
Membalut luka dengan kasa atau plester dapat menjadi cara mengatasi luka berbau. Membalut luka dapat menjaganya tetap bersih dari kotoran, debu dan benda yang tidak steril serta dapat menyerap darah atau nanah yang keluar dari tempat terluka sehingga dapat cepat kering.
- Antibiotik
Cara mengatasi luka berbau salah satunya adalah dengan antibiotik yang berguna untuk membunuh serta mencegah pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Antibiotik untuk luka bisa berbentuk salep, tablet maupun infus.
Sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk penggunaan antibiotik yang tepat. Konsultasi dengan dokter melalui chat gratis di aplikasi Medi-Call.

- Antiseptik
Antiseptik mampu membunuh bakteri serta mengatasi luka berbau. Antiseptik dapat digunakan dengan cara dilarutkan dengan air saat Anda mandi. Atau Anda bisa merendam kapas dengan cairan antiseptik kemudian oleskan pada bagian yang terluka.
Saat mengalami luka sebaiknya Anda menggunakan handuk sendiri untuk mencegah penyebaran kuman dan bakteri.
- Kompres
Rutin melakukan kompres air hangat dapat meringankan nyeri serta mengatasi luka berbau. Air hangat dapat membantu pori-pori kulit terbuka sehingga kotoran pada luka dapat keluar.
Celupkan kain halus dengan air hangat kemudian kompres area yang terluka secara perlahan. Anda juga bisa menambahkan garam pada air hangat untuk membunuh kuman dan bakteri.
- Perawat luka
Luka berbau merupakan tanda terjadinya infeksi di kaki seperti gangren yaitu luka yang berwarna hitam, bengkak dan berbau pada penderita diabetes.
Luka berbau pada penderita diabetes yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan infeksi serius hingga amputasi kaki.
Peran perawat luka dapat membantu mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi resiko terjadinya infeksi serius.
Dapatkan layanan perawat untuk mengatasi luka ke rumah Anda melalui aplikasi Medi-Call atau Call Center 24 Jam.

- Tidak menyentuh luka
Sebaiknya hindari menyentuh luka dengan tangan karena dapat memperparah infeksi dan membuat semakin bau. Gunakan alat yang steril dan bersih seperti kapas atau tisu apabila Anda ingin menyentuh luka. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh luka guna mencegah penularan bakteri.
Sebaiknya konsumsi makanan yang dapat mempercepat penyembuhan luka seperti brokoli, kedelai, ikan serta kacang-kacangan. Sebaiknya juga selalu menjaga kebersihan lingkungan sehingga mencegah bakteri dan kuman penyebab penyakit.
Table of Contents
ToggleLangkah Mengatasi luka Berbau
1. Cuci tangan (wajib)
Sebelum menyentuh luka, selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, lalu keringkan dengan tisu atau handuk bersih. Langkah sederhana ini menurunkan jumlah kuman di tangan sehingga membantu mencegah infeksi yang membuat luka semakin berbau. Jika tidak ada air, Anda dapat menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol, namun tetap utamakan cuci tangan dengan sabun bila memungkinkan.
2. Siapkan peralatan bersih (bukan kain atau perban bekas)
Gunakan peralatan yang bersih dan, bila memungkinkan, steril untuk merawat luka. Beberapa hal yang sebaiknya Anda siapkan:
- Kasa steril atau perban sekali pakai
- Sarung tangan medis sekali pakai jika tersedia
- Gunting bersih (bila perlu memotong perban)
- Larutan NaCl 0,9% (saline) atau air bersih mengalir
Hindari memakai kain, kapas, atau perban bekas karena seratnya dapat menempel di luka, memicu iritasi, dan meningkatkan risiko infeksi sehingga bau luka bisa semakin kuat.
3. Bersihkan luka dengan benar (tanpa alkohol atau bahan yang merusak jaringan)
Membersihkan luka berbau bertujuan mengurangi kotoran, nanah, dan jumlah bakteri di area luka. Langkah umum yang aman:
- Bilas luka dengan air mengalir atau larutan saline steril
- Bersihkan dari bagian tengah luka ke arah luar secara perlahan
- Hindari menggosok terlalu keras agar jaringan baru tidak rusak
Jangan menggunakan alkohol, hidrogen peroksida pekat, atau bahan keras langsung pada jaringan luka, karena dapat merusak jaringan sehat dan menghambat penyembuhan. Pada luka kronis atau luka komplikasi (misalnya luka diabetes, dekubitus), pembersihan sebaiknya dilakukan oleh perawat luka terlatih.
4. Keringkan area luka (mencegah lembap yang memicu bau)
Setelah dibersihkan, keringkan area sekitar luka dengan kain kasa atau tisu steril dengan cara menepuk pelan, bukan menggosok. Area yang terlalu lembap dan tertutup rapat memudahkan pertumbuhan bakteri, sehingga bau luka dapat semakin menyengat. Pastikan kulit di sekitar luka kering sebelum pemasangan balutan baru, namun tetap jaga agar permukaan luka memiliki kelembapan yang terkontrol sesuai anjuran tenaga medis.
5. Oleskan salep antibiotik (opsional, sesuai anjuran dokter)
Penggunaan salep antibiotik atau obat topikal untuk luka berbau sebaiknya hanya dilakukan sesuai petunjuk dokter. Tidak semua luka membutuhkan antibiotik, dan penggunaan sembarangan dapat menimbulkan resistensi bakteri atau iritasi kulit.
Dokter akan mempertimbangkan jenis luka, derajat infeksi, serta kondisi khusus seperti diabetes, penyakit pembuluh darah, atau penggunaan obat penurun imun sebelum meresepkan salep atau krim tertentu.
6. Tutup luka dengan balutan bersih
Luka berbau biasanya lebih aman bila ditutup dengan balutan bersih untuk membatasi paparan bakteri dari luar dan membantu mengontrol drainase luka. Pilih jenis balutan sesuai kondisi luka, misalnya:
- Kasa steril untuk luka ringan sampai sedang
- Balutan modern (hydrocolloid, alginate, foam) untuk luka dengan cairan cukup banyak, sesuai rekomendasi tenaga medis
Hindari menutup luka dengan kapas longgar karena dapat meninggalkan serat dan menyulitkan penggantian balutan.
7. Jaga kebersihan luka dan ganti balutan teratur
Luka berbau sering kali menghasilkan cairan (eksudat) lebih banyak, sehingga balutan perlu diganti lebih sering. Beberapa prinsip umum:
- Ganti balutan bila sudah lembap, kotor, atau tercium bau lebih menyengat
- Ikuti jadwal penggantian yang dianjurkan dokter atau perawat
- Setiap penggantian balutan ulangi langkah cuci tangan, bersihkan luka, keringkan, lalu tutup ulang
Perawatan luka yang konsisten membantu mengurangi bau, mempercepat penyembuhan, dan menurunkan resiko penyebaran infeksi ke jaringan yang lebih dalam.
Hal yang harus dihindari Jika Luka Sudah Berbau
Beberapa hal berikut sebaiknya Anda hindari agar kondisi luka tidak memburuk:
- Mengabaikan bau kuat, nanah, atau perubahan warna luka, dengan anggapan luka akan sembuh sendiri.
- Menggunakan obat luka, salep, atau ramuan tradisional tanpa konsultasi, terutama bahan yang tidak steril atau berpotensi mengiritasi.
- Menekan, memencet, atau memecahkan nanah sendiri, karena dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam dan memicu penyebaran infeksi.
- Membersihkan luka berbau dengan alkohol pekat, cairan pemutih, atau antiseptik keras langsung ke jaringan luka.
- Membiarkan balutan basah, kotor, atau lembap terlalu lama, yang dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur.
- Menghentikan obat antibiotik yang diresepkan dokter sebelum waktunya hanya karena bau luka mulai berkurang.
Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
Segera cari bantuan medis bila Anda menemukan satu atau lebih tanda bahaya berikut:
- Demam, menggigil, merasa sangat lemas, atau tidak enak badan.
- Nyeri luka yang semakin hebat atau tidak membaik meskipun sudah dirawat.
- Kemerahan dan pembengkakan yang meluas, muncul garis merah dari luka mengarah ke atas (tanda infeksi menyebar).
- Keluar nanah sangat banyak, kental, berwarna hijau pekat, abu-abu, atau bercampur darah, dengan bau sangat busuk.
- Luka bertambah besar, jaringan tampak menghitam (nekrosis), atau tampak seperti lubang dalam.
- Pada penderita diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, atau pasien tirah baring, luka sedikit saja yang berbau sudah perlu evaluasi dokter, karena risiko komplikasi lebih tinggi.
Catatan penting: Kombinasi luka berbau, demam, dan garis merah di kulit bisa menandakan infeksi berat yang berpotensi mengancam nyawa dan membutuhkan pertolongan di IGD.
Layanan Perawatan Medis Profesional
1. Konsultasi ke Dokter Untuk Menilai Tingkat Infeksi
Dokter umum atau dokter bedah akan menilai kondisi luka, tingkat keparahan infeksi, dan faktor risiko yang Anda miliki. Pemeriksaan dapat mencakup evaluasi ukuran luka, kedalaman, adanya jaringan mati, jumlah eksudat, serta tanda infeksi sistemik seperti demam dan peningkatan nyeri.
Melalui konsultasi tatap muka atau kunjungan dokter ke rumah, Anda akan mendapatkan rencana perawatan luka yang lebih tepat, termasuk jadwal kontrol dan edukasi perawatan di rumah.
2. Debridement (pembersihan jaringan mati) untuk menghambat penyebaran infeksi
Pada luka berbau, sering kali terdapat jaringan mati (nekrosis) yang menjadi media tumbuh bakteri dan sumber bau. Dokter atau perawat luka dapat melakukan debridement, yaitu pembersihan jaringan mati dengan metode tertentu (mekanis, enzimatik, atau bedah minor) sesuai kondisi luka.
Tindakan ini tidak boleh dilakukan sendiri di rumah karena beresiko perdarahan dan kerusakan jaringan sehat, prosedur harus dikerjakan oleh tenaga medis terlatih dengan alat yang tepat.
3. Resep obat (antibiotik, pereda nyeri, dan obat topikal yang tepat)
Pada luka berbau yang sudah jelas terinfeksi, dokter dapat meresepkan antibiotik oral atau intravena bila diperlukan, serta salep topikal yang sesuai. Obat pereda nyeri dan pengontrol penyakit penyerta (misalnya obat diabetes) juga penting untuk mendukung proses penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik harus mengikuti dosis dan durasi yang dianjurkan, tidak boleh dihentikan sepihak meskipun keluhan bau luka mulai berkurang.
4. Kontrol berkala untuk memantau perkembangan luka
Luka berbau, terutama yang kronis seperti luka kaki diabetes, luka tekan, atau luka pasca operasi yang terinfeksi, memerlukan pemantauan rutin. Kontrol berkala memungkinkan dokter atau perawat menilai respon terhadap terapi, mengganti jenis balutan bila perlu, dan mengoreksi faktor penghambat penyembuhan seperti gula darah yang tidak terkontrol.
Saatnya dapatkan Bantuan Tenaga Medis ke Rumah
Mengatasi luka berbau di rumah memang bisa membantu mengurangi keluhan, namun bau yang menetap, nanah, dan tanda infeksi tidak boleh diabaikan. Kondisi ini membutuhkan penanganan langsung dari perawat luka profesional agar luka tidak semakin parah dan risiko komplikasi bisa dicegah.
Jika Anda kesulitan merawat luka sendiri, tinggal jauh dari rumah sakit, atau merawat orang tua serta anggota keluarga dengan kondisi khusus, layanan Perawat Luka Medi-Call siap datang langsung ke rumah Anda dengan prosedur yang aman dan sesuai standar medis.
Pesan layanan Perawat Luka Medi-Call sekarang juga. Download aplikasi Medi-Call di Play Store dan App Store, lalu lakukan pemesanan dengan mudah dan cepat. Customer Service siap melayani 24 jam.
Catatan penting: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan profesional. Selalu periksakan kondisi luka Anda ke dokter, terutama bila keluhan tidak membaik, muncul tanda infeksi berat, atau Anda memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan pembuluh darah, atau daya tahan tubuh lemah.
Ditinjau oleh: dr. Stanislaus Ivanovich K
- Managing Wound Odor [Internet]. Palliative Care Network of Wisconsin. Available from: https://www.mypcnow.org/fast-fact/managing-wound-odor/
- OUP accepted manuscript. Burns and Trauma. 2021;
- Wound Odor Management [Internet]. Enclara Pharmacia. 2015. Available from: https://enclarapharmacia.com/palliative-pearls/wound-odor-management
- Kelechi TJ, Brunette G, Bonham PA, Crestodina L, Droste LR, Ratliff CR, et al. 2019 Guideline for Management of Wounds in Patients With Lower-Extremity Venous Disease (LEVD). Journal of Wound, Ostomy & Continence Nursing. 2020 Mar;47(2):97–110.
- Bonham PA, Brunette G, Crestodina L, Droste LR, González A, Kelechi TJ, et al. 2021 Guideline for Management of Patients With Lower-Extremity Wounds Due to Diabetes Mellitus and/or Neuropathic Disease. Journal of Wound, Ostomy & Continence Nursing. 2022 May;49(3):267–85.
- Wound, Ostomy and Continence Nurses Society. WOCN 2016 Guideline for Prevention and Management of Pressure Injuries (Ulcers). Journal of Wound, Ostomy and Continence Nursing. 2017;44(3):241–6.










